Selasa, 23 Februari 2010

Huwaida Arraf, Wanita Nekat yang Tak Pernah Kapok Menantang Blokade Tentara Israel di Gaza

JP, Selasa, 23 Februari 2010

Mahattir Sumbang Tiga Kapal, Berharap Satu Lagi dari Indonesia

Huwaida Arraf disebut-sebut sebagai wanita pertama yang sukses mengirimkan bantuan untuk Gaza dan menembus blokade Israel via jalur laut pada 23 Agustus 2008. Kini wanita berdarah Israel-Palestina itu berkeliling dunia guna menggalang armada kapal baru untuk pelayaran kelimanya.

ZULHAM MUBARAK, Jakarta

---

JIKA ada award wanita paling nekat sedunia, Huwaida Arraf mungkin masuk dalam unggulan. Wanita yang berdomisili di Amerika itu tercatat dalam sejarah sebagai aktivis wanita yang sukses menembus blokade Israel dengan dua perahu kecil. Di bawah ancaman armada laut Israel, Huwaida memasang badan dan rela ditembak mati asal kapal berisi bantuan makanan dan semen itu bisa masuk.

Pada hari tersebut, untuk kali pertama setelah 40 tahun terakhir, aktivis Free Gaza Movement dan 43 rekannya dari 17 negara berhasil menaklukkan armada laut Negeri Zionis dan mengirimkan bantuan untuk rakyat Palestina. Kini dia membidik pelayaran kelimanya menembus laut mediterania demi mengurangi penderitaan warga Gaza.

''Tapi, kali ini saya ingin dunia melihat dengan mata terbuka. Jadi, saya berkampanye keliling dunia dan mengundang semua pihak untuk ikut menyumbang dan bergabung,'' ujarnya tegas ketika ditemui di markas Voice of Palestina (VoP), Jalan Pasar Minggu, Jakarta Sabtu (20/2).

Kandidat peraih nobel perdamaian 2009 itu memang tidak main-main. Empat bulan terakhir, alumnus University of Michigan itu telah meninggalkan rumahnya di Amerika Serikat (AS) demi suksesnya pelayaran kelima yang dilangsungkan Mei 2010 mendatang. Wanita beragama Katolik itu telah berkeliling ke tujuh negara sebelum sampai di Jakarta. Dampaknya, maskapai penerbangan berkali-kali menolak membawa barang-barang pribadinya yang jumlahnya seabreg. ''Tiap transit di salah satu negara, barang bawaan selalu susah terbawa. Maklum, sudah empat bulan lebih saya tinggal dari hotel ke hotel,'' ujar wanita berhidung mancung itu.

Lalu apa hasil kampanyenya? Saat ini dia mengaku telah mendapat sedikitnya enam kapal kecil dan dua kapal kargo. Dari delapan kapal itu, lima merupakan sumbangan Turki dan tiga sisanya merupakan sumbangan Organisasi Perdamaian Global Perdana yang dimotori Mantan PM Malaysia Mahattir Muhammad. Dalam dua bulan ke depan, dia sudah dijanjikan armada dari Swedia dan Yunani.

Kapal-kapal itu rencananya diisi makanan, obat-obatan, semen, dan kertas. Namun, di antara bahan-bahan itu, menurut Huwaida, yang paling krusial adalah semen dan kertas. Sebab, kedua bahan itu sama sekali tidak boleh melintasi perbatasan. Akibatnya, bangunan bekas pengboman tentara Israel dan tembok-tembok warga Gaza banyak yang berlubang dan tidak berbentuk. ''Semen dituding sebagai amunisi untuk melempari tentara, jadi mereka melarang ekspor bahan itu,'' ujarnya.

Huwaida mengakui, perhatian dunia internasional memang sangat tinggi terhadap konflik Palestina-Israel. Tapi, kata wanita yang lebih sering berada di Palestina daripada di AS itu, hal tersebut tidak memunculkan solusi. Yang ada hanya jalan buntu karena Israel tidak mengindahkan ancaman apa pun dari dunia internasional. Karena itu, dia menggalang aksi lebih konkret untuk membantu masyarakat Gaza, yakni dengan pelayaran itu. ''Bantuan uang lebih tidak konkret karena menumpuk di pemerintah dan tidak tersalurkan. Warga Gaza butuh hal yang konkret dan bisa langsung digunakan,'' ujarnya.

Selain mengumpulkan kapal, Huwaida membuka pintu bagi politisi atau wartawan yang ingin ikut dalam sail Gaza Mei mendatang. Dalam sederet pelayaran terakhirnya, dia juga sukses membawa serta dokter, wartawan, anggota parlemen, suster, guru, pengawas HAM, dan aktivis lain.

Dia mengisahkan, tidak semua pelayarannya berjalan mulus. Pada Desember 2008, ketika dia menggalang pelayaran kali kesekian, AL Israel menabrak perahu yang membawa dokter dan suplai makanan bagi warga Gaza. Kapal itu pun karam. Dua minggu kemudian, mereka berusaha lagi menembus blokade, namun gagal dan terpaksa menyelamatkan diri setelah kapal yang mereka tumpangi bernasib serupa. Mereka harus dievakuasi dari tengah laut. ''Pada 30 Juni 2009 kapal kami yang berisi 30 ton bahan makanan, pakaian, dan mainan anak-anak dicegat kapal perang dan kami pun ditangkap Armada Israel,'' kenangnya.

Karena itu, Huwaida tidak memberikan jaminan keselamatan kepada peserta pelayaran, siapa pun mereka. Ini karena agresivitas militer Israel memang sering tidak terukur, apalagi mereka dibekali perlengkapan tempur yang canggih.

Dalam catatannya, ketika Israel memblokade Palestina selama 22 hari pada pertengahan tahun lalu, sedikitnya 1.419 nyawa melayang. Di antaranya, 1.167 warga sipil, 326 anak-anak. Selain itu, 5.300 orang lain cedera. ''Yang menyedihkan, itu semua terjadi dalam tiga pekan saja.''

Selain itu, rekan Huwaida sesama aktivis, Caoimhe Butterfly, ditembak di tempat bersamaan dengan pekerja PBB asal Inggris Ian Hook. Begitu pula dua aktivis rekan seperjuangan Huwaida, Rachel Corrie dan Tom Hurndall, yang tewas dibuldoser tentara Israel. ''Tapi, itu tidak membuat saya mundur. Lebih banyak nyawa yang juga akan mengalami hal yang sama di Palestina jika aksi pendudukan ini tidak berakhir,'' terangnya.

Huwaida berencana berada di Indonesia hingga malam ini. Sebelum bertolak ke Palestina, dia akan bertemu pimpinan DPR RI dan diagendakan bertemu dengan Jusuf Kalla. Dia berharap ketua PMI itu bersedia memberikan bantuan kepada armadanya.

''Harapan saya, di Indonesia mendapat satu kapal saja sudah cukup. Dan, semoga dalam kunjungan singkat saya ini ada pihak yang tergugah untuk ikut menyumbangkannya,'' ucapnya.

Di tempat yang sama, Ketua Organisasi Voice of Palestina Indonesia Mujtahid Hashem mengatakan siap mendukung misi itu dan membantu penggalangan bantuan dalam misi sail Gaza. Dia juga menyatakan telah mendapat informasi bahwa Mer-C Indonesia siap menyumbangkan satu kapal berisi obat-obatan dan dokter. ''Jadi, bantuan satu kapal itu saya kira pasti terlampaui. Semoga saja masih ada dermawan lain yang ikut membantu,'' ujarnya.

Mujtahid siap mengampanyekan gerakan Huwaida di Tanah Air dan memfasilitasi dermawan maupun relawan yang hendak memberikan bantuan kepada Free Gaza Movement. Dia berharap ada tindak lanjut yang konkret dari pemerintah Indonesia menyikapi seruan aksi untuk membantu warga Gaza itu. ''Kita sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia harus yakin pada perjuangan ini. Ini demi kelangsungan kemanusiaan,'' ujarnya.

Kemarin Huwaida juga mendatangi gedung DPR untuk mencari dukungan politik. Dia ditemui anggota parlemen yang tergabung dalam Kaukus DPR RI untuk Palestina. (nw)

Tidak ada komentar: